Barangkali tak ada orang selegendaris Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan. Laki-laki kelahiran Luwu ini bergerilya melawan pemerintahan Sukarno selama belasan tahun. Hebatnya, tak satu pun panglima tangguh yang ditempatkan di Sulawesi Selatan mampu menghentikan perlawanannya hingga 1965.
Kahar bahkan masih diingat dengan baik oleh masyarakat di sekitar Luwu sampai hari ini. Satu dekade belakangan, beberapa keturunan Kahar di Luwu. Tak semuanya sukses.
Puluhan tahun silam, dalam laporan bertanggal 28 Oktober 1950, Bernard Wilhelm Lapian, yang saat itu bertindak sebagai Gubernur Sulawesi, menyebut “Kahar Muzakkar sebagai pelopor perjuangan kemerdekaan yang telah memupukperjuangan rakyat terutama di daerah Sulawesi Selatan.”
Intinya, pada 1950-an, Kahar Muzakkar dihormati kaum gerilyawan dan “disambut meriah dengan arak-arakan” di sekitar Luwu dan Tana Toraja.
Meski sudah dinyatakan tertembak pada Februari 1965, ada sebagian orang yang masih percaya bahwa Kahar Muzakkar belum mati. Makamnya tak pernah ditemukan, atau pemerintah Indonesia sengaja menyembunyikan kuburannya demi menghindari pemujaan.
Pada 1954 pernah ada kabar bohong yang menyebut Kahar tewas. Kabar ini beredar sampai ke Jakarta. Pihak pemerintah daerah Sulawesi melalui Kepala Bagian Politik Kegubernuran Sulawesi J. Latumahina akhirnya mengirim surat kepada Menteri Dalam Negeri untuk mengklarifikasi kabar kematian tersebut. Mereka mendengar kabar bahwa Kahar Muzakkar meninggal di Palopo.


