Lebih dari 4 Ribu Anak di Luwu Putus Sekolah, Belopa Catat Kasus Tertinggi

suaraluwu@gmail.com
3 Min Read

Sebanyak 4.662 anak di Kabupaten Luwu tercatat putus sekolah (drop out/DO) maupun lulus tetapi tidak melanjutkan pendidikan sepanjang 2025. Meski lebih rendah dibandingkan 5.154 kasus pada 2024, jumlah tersebut menunjukkan masih banyak anak yang belum melanjutkan pendidikan.

Data Dinas Pendidikan Kabupaten Luwu menunjukkan Kecamatan Belopa kembali menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi selama dua tahun berturut-turut. Pada 2025 tercatat 410 kasus, disusul Ponrang sebanyak 379 kasus dan Larompong 376 kasus.

Belopa juga menjadi kecamatan dengan jumlah kasus tertinggi pada 2024, yakni 649 kasus. Sebaliknya, Latimojong mencatat jumlah terendah dengan 40 kasus pada 2025, disusul Walenrang Barat sebanyak 38 kasus dan Bassesangtempe Utara 65 kasus.

Kasubag Program dan Perencanaan Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Kabupaten Luwu, Hasnita Tahir Gani, mengatakan data anak tidak sekolah tahun 2026 masih bersifat sementara. Data tersebut baru akan ditetapkan setelah penutupan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) pada September mendatang.

Menurut Hasnita, penyebab anak tidak melanjutkan pendidikan cukup beragam. Faktor ekonomi keluarga, keterbatasan akses menuju sekolah, kondisi kesehatan, hingga keputusan untuk bekerja membantu orang tua masih menjadi penyebab yang banyak ditemukan.

“Banyak faktor, ada yang karena jarak atau aksesnya ke sekolah. Karena ekonomi, ada juga yang lebih pilih bekerja bantu orang tua, atau karena faktor kesehatan,” ujarnya Kamis (23/7/2026).

Ia menjelaskan tidak semua anak yang tercatat dalam kategori tidak melanjutkan pendidikan benar-benar berhenti sekolah. Sebagian merupakan anak yang berpindah domisili, namun belum tercatat melanjutkan pendidikan di daerah tujuan.

Berdasarkan jenjang pendidikan, jumlah kasus pada tingkat SD meningkat dari 927 kasus pada 2024 menjadi 984 kasus pada 2025. Pada jenjang SMP naik dari 1.336 menjadi 1.367 kasus, sedangkan SMA/SMK meningkat dari 540 menjadi 664 kasus Selain itu, sebanyak 1.647 siswa tercatat lulus tetapi tidak melanjutkan pendidikan pada 2025. 

Untuk menekan angka anak tidak sekolah, Dinas Pendidikan Kabupaten Luwu menjalankan program intervensi sejak tahun lalu, seperti Program Gerbang ATS yang menyediakan layanan pendidikan kesetaraan melalui Paket A, Paket B, dan Paket C, serta memberikan bantuan seragam sekolah gratis.

Meski demikian, data tahun 2025 menunjukkan masih tingginya angka anak yang putus sekolah maupun lulus tanpa melanjutkan pendidikan. Kondisi tersebut menjadi indikator bahwa persoalan akses pendidikan di Kabupaten Luwu masih belum sepenuhnya teratasi dan memerlukan penanganan berkelanjutan dari berbagai pihak.

Share This Article