Perekonomian Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, mencatat kinerja impresif sepanjang 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Luwu mencapai 7,43 persen, sekaligus menjadi yang tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.
Capaian tersebut juga menempatkan Luwu sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di tingkat provinsi, hanya terpaut tipis dari Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).
Pertumbuhan ini menandai fase pemulihan yang kuat setelah sempat melambat di angka 4,36 persen pada tahun sebelumnya. Jika ditarik lebih jauh, ekonomi Luwu bahkan sempat menyentuh titik terendah pada masa pandemi 2020 di angka 1,3 persen, sebelum kembali meningkat dan mencapai titik balik signifikan pada 2025.
Secara nominal, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Luwu atas dasar harga berlaku kini mencapai Rp24,69 triliun. Peningkatan ini turut diikuti kenaikan kesejahteraan rata-rata penduduk, dengan PDRB per kapita yang tercatat sebesar Rp63,45 juta.
Struktur ekonomi Luwu masih didominasi sektor agraria. Sektor pertanian menjadi kontributor terbesar dengan porsi 50,65 persen. Sementara itu, sektor perdagangan menyumbang 11,19 persen dan industri pengolahan 9,22 persen.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi didorong oleh konsumsi rumah tangga yang menyumbang 54,77 persen. Hal ini menunjukkan daya beli masyarakat Luwu relatif tetap terjaga di tengah proses pemulihan ekonomi global.
Bupati Luwu, H. Patahuddin, menilai capaian ini sebagai hasil kerja kolektif seluruh pihak sekaligus validasi bahwa kebijakan daerah berada di jalur yang tepat.
“Capaian ini adalah hasil kerja kolektif. Pemerintah akan terus memperkuat sektor unggulan, khususnya pertanian, sembari mendorong investasi masuk dan memastikan daya beli masyarakat tetap kuat,” ungkapnya kepada Tribun-Timur.com, Minggu (1/3/2026) siang di Kota Belopa.
Ia menambahkan, pemerintah daerah saat ini juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif, sehingga mampu menekan angka pengangguran dan kemiskinan secara bertahap.


