Sempat Ditolak, Pembangunan Sekolah Rakyat di Luwu Berlanjut dengan Anggaran Rp250 Miliar!

suaraluwu@gmail.com
3 Min Read

Pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Luwu masih dipersiapkan dengan estimasi anggaran mencapai Rp250 miliar. Sekolah berasrama tersebut akan dibangun di Desa Tiromanda, Kecamatan Bua, dengan jenjang pendidikan mulai SD hingga SMA.

Sekolah direncanakan berdiri di atas lahan seluas 7,5 hektare yang telah disiapkan untuk pembangunan. Hingga pertengahan Agustus 2026, proyek masih berada pada tahapan persiapan sebelum pembangunan fisik dimulai.

Kepala Dinas PUPR Kabupaten Luwu, Ikhsan Asaad, mengonfirmasi lokasi pembangunan berada di Desa Tiromanda dengan dana berasal dari pemerintah pusat.

“Pembangunan Sekolah Rakyat di Luwu masih berprogres. Lokasinya tidak pernah berubah. Estimasi anggaran dari pusat Rp250 miliar,” ujarnya, Selasa (18/8/2026).

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sebelumnya pembangunan sekolah tersebut sempat mendapat penolakan masyarakat lantaran berlokasi di Desa Tembo’e yang menjadi hutan ikon daerah. Selain itu, pembangunan juga dianggap berdampak pada sekolah negeri lainnya di Kabupaten Luwu yang juga disebut mulai kekurangan murid.

Pembangunan fisik sekolah ini nantinya menjadi kewenangan Kementerian Pekerjaan Umum. Namun, pelaksanaannya masih menunggu Proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang saat ini berlangsung.

Sekolah Rakyat tersebut dirancang menggunakan konsep boarding school. Dalam usulan awal, sebanyak 12 ruang kelas akan disiapkan untuk menampung siswa dari tiga jenjang pendidikan.

Kapasitas yang direncanakan mencapai 168 siswa tingkat SD, 96 siswa SMP, dan 105 siswa SMA. Jika terealisasi sesuai usulan, total daya tampung sekolah mencapai 369 siswa.

Selain ruang belajar, kawasan sekolah direncanakan dilengkapi asrama siswa, asrama guru, ruang makan, serta fasilitas olahraga untuk menunjang kegiatan pendidikan dan kehidupan siswa selama berada di lingkungan sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Luwu, Andi Palanggi, mengatakan pembangunan diharapkan dapat mulai dilakukan pada 2026 apabila tahapan proses AMDAL selesai.

“Progresnya hingga kini masih menunggu AMDAL lingkungan dan ini baru sementara proses. Kita berharapnya bisa cepat selesai, supaya tahun ini bisa dibangun,” katanya.

Persiapan juga mencakup kebutuhan tenaga pendidik dan pengelola asrama. Guru nantinya akan direkrut melalui proses seleksi, dengan tenaga pendidik lokal yang memenuhi kompetensi disebut akan menjadi prioritas. Kepala asrama juga direncanakan berasal dari kalangan guru yang memenuhi kriteria.

Sementara itu, mekanisme penyediaan makanan bagi siswa belum ditetapkan. Salah satu opsi yang masih dibahas adalah bekerja sama dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), selain kemungkinan pengelolaan secara mandiri.

Share This Article