SMP Negeri Paranta di Desa Ilan Batu Uru, Kecamatan Walenrang Barat, Kabupaten Luwu, hingga kini belum tersentuh Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sekolah yang berada di wilayah pegunungan perbatasan Luwu dan Toraja Utara tersebut masih menghadapi keterbatasan akses dan infrastruktur.
Akses menuju sekolah disebut hanya bisa dilalui kendaraan roda dua dengan kondisi jalan tanah, berbatu, dan berlumpur saat hujan. Kondisi tersebut membuat aktivitas masyarakat maupun siswa di wilayah tersebut masih cukup sulit dijangkau.
Sebagian siswa juga harus berjalan kaki cukup jauh setiap hari untuk bisa mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Sejumlah siswa berharap sekolah mereka dapat ikut menerima program MBG seperti sekolah lain di wilayah yang lebih mudah dijangkau.
“Kami ingin seperti siswa lainnya bisa menikmati MBG, seperti di ibu kota kecamatan atau daerah yang mudah dijangkau,” ucap Aini lirih, salah satu siswi SMPN Pranata.
Kepala SMP Negeri Paranta, Usman membenarkan bahwa sejak program MBG dijalankan pemerintah pusat, sekolah yang dipimpinnya belum pernah menerima program tersebut.
Menurutnya, siswa di daerah terpencil justru membutuhkan perhatian lebih terhadap kebutuhan gizi karena harus menempuh perjalanan jauh menuju sekolah setiap hari.
“Anak-anak kami ini seharusnya mendapat MBG karena mereka harus jalan kaki ke sekolah, begitu juga kalau pulang. Jarak tempuh mereka kebanyakan berkilo-kilo, jadi mereka kalau pulang sekolah sudah kelelahan bahkan lapar,” ujar Usman.
Selain itu, Usman juga berharap pemerintah pusat memberi perhatian terhadap kondisi infrastruktur di wilayah pedalaman tersebut, khususnya akses jalan menuju desa dan sekolah.
Menurutnya, perbaikan jalan penting tidak hanya untuk menunjang sektor pendidikan, tetapi juga memudahkan akses layanan kesehatan, aktivitas ekonomi masyarakat, serta mobilitas warga di daerah pegunungan.


