Hampir Sebulan Lampu Mati: Usaha Warga Luwu Terancam Gulung Tikar, Mesin Produksi Mati Total!

suaraluwu@gmail.com
2 Min Read

Pemadaman listrik bergilir yang berlangsung hampir sebulan di Kabupaten Luwu dinilai berdampak terhadap aktivitas usaha warga. Sejumlah usaha yang bergantung pada listrik harus menghentikan sementara proses produksi ketika pemadaman berlangsung.

Salah satunya dialami Faisal, pemilik usaha konveksi baju olahraga Efzet di Dusun Ponrang, Desa Tirowali, Kecamatan Ponrang. Produksi usahanya menggunakan mesin printing berukuran besar yang sepenuhnya bergantung pada pasokan listrik.

Ketika listrik padam, mesin tidak dapat digunakan sehingga proses produksi terhenti. Kondisi tersebut mulai memengaruhi waktu operasional karena pemadaman terjadi hampir setiap hari.

“Sangat menghambat sekali,” kata Faisal, Rabu (23/9/2026).

Pada Agustus 2026, usahanya mampu memproduksi sebanyak 1.914 baju olahraga seiring tingginya pesanan menjelang dan setelah momentum 17 Agustus. Namun, pemadaman bergilir membuat Faisal khawatir produksi September tidak mampu menyamai capaian bulan sebelumnya.

Berdasarkan jadwal PLN ULP Belopa, wilayah tempat usaha Faisal baru-baru ini terdampak pemadaman selama dua hari berturut-turut. Seperti pada 22 September, listrik yang dijadwalkan padam pukul 10.00–14.00 WITA, sedangkan sehari setelahnya berlangsung pukul 13.00–17.00 WITA.

Pemadaman bergilir juga masih terjadi di Kabupaten Luwu. Pada Rabu (23/9/2026), sedikitnya sembilan kecamatan dengan sekitar 80 desa dan kelurahan masuk dalam jadwal pengaturan beban mulai siang hingga malam.

Wilayah terdampak antara lain tersebar di Kecamatan Ponrang, Larompong Selatan, Latimojong, Bajo Barat, Bupon, Suli, Suli Barat dan Larompong. Durasi pemadaman di sejumlah wilayah mencapai sekitar empat hingga empat setengah jam.

General Manager PLN UID Sulselrabar Edyansyah sebelumnya menjelaskan pengaturan beban tersebut dilakukan akibat berkurangnya pasokan pembangkit dalam sistem kelistrikan. Salah satu penyebabnya adalah pemeliharaan PLTU IPP Jeneponto berkapasitas 125 megawatt (MW).

“Pemeliharaan tersebut berdampak pada berkurangnya kapasitas pembangkit yang masuk ke dalam sistem kelistrikan,” kata Edyansyah.

Berkurangnya kapasitas pembangkit disebut membuat PLN melakukan pengaturan beban di sejumlah wilayah. Masyarakat juga diminta mempersiapkan kebutuhan yang menggunakan listrik sebelum jadwal pemadaman berlangsung serta memantau informasi terbaru dari PLN.

Share This Article