Desa Kadundung Resmi Jadi Desa Tangguh Bencana, Warga Dibekali Mitigasi dan Simulasi Darurat

suaraluwu@gmail.com
2 Min Read

Desa Kadundung, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, resmi ditetapkan sebagai Desa Tangguh Bencana (DESTANA) pada Rabu (29/7/2026), setelah mengikuti program penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi potensi bencana. 

Kadundung menjadi desa kelima yang memperoleh pendampingan DESTANA sejak program tersebut dimulai pada 2024. Sebelumnya, kegiatan serupa telah dilaksanakan di Desa Bonelemo, Ulusalu, Boneposi, dan Tolajuk.

Di Desa Kadundung, warga mengikuti pembekalan mengenai mitigasi bencana, mekanisme koordinasi saat keadaan darurat, serta penyusunan respons desa. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan simulasi pertolongan pertama yang dipandu oleh tim PMI bersama Emergency Response Team (ERT), termasuk praktik penanganan korban, evakuasi awal, dan koordinasi saat menghadapi situasi darurat.

Program ini berawal dari aspirasi masyarakat yang dihimpun melalui Forum Desa MATAPPA (FORDES MATAPPA). Aspirasi tersebut kemudian diwujudkan melalui kegiatan pemetaan risiko, penyusunan mekanisme respons desa, simulasi kebencanaan, hingga pelatihan penanganan awal kondisi darurat sesuai karakteristik masing-masing wilayah.

Program tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi PT Masmindo Dwi Area (MDA), Pusat Studi Pemetaan dan Bencana (PUSPENA) Universitas Cokroaminoto Palopo, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu, dan Palang Merah Indonesia (PMI).

Kepala Teknik Tambang PT Masmindo Dwi Area, Mustafa Ibrahim, mengatakan penguatan kapasitas masyarakat menjadi bagian dari upaya membangun kesiapsiagaan di desa-desa sekitar wilayah operasional.

“Melalui Jaga Keselamatan Desa kami terus memperkuat kolaborasi agar setiap desa memiliki kapasitas yang semakin baik dalam mengenali risiko, menyusun mekanisme respons, dan bertindak cepat ketika menghadapi kondisi darurat,” ujarnya.

Ketua PUSPENA Universitas Cokroaminoto Palopo, Ichwan Muis, menyebut ketangguhan desa tidak dapat dibangun melalui satu kali pelatihan, tetapi memerlukan proses belajar, latihan, dan evaluasi yang dilakukan secara berkelanjutan agar kesiapsiagaan menjadi bagian dari budaya masyarakat.

Kepala Desa Kadundung, Parambung, mengapresiasi dan menilai kegiatan tersebut manfaat yang baik pada masyarakat.

“Kami merasakan manfaat yang nyata dari program ini. Masyarakat tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mempraktikkan langsung langkah-langkah penanganan darurat. Kegiatan seperti ini membuat masyarakat semakin memahami bagaimana harus bertindak, saling berkoordinasi, dan membantu sesama ketika menghadapi situasi darurat,” ucapnya.

Share This Article