Kekeringan Sejak Maret! Petani di Walenrang Mulai Mengalami Gagal Panen hingga Rugi Rp10 Juta per Hektare

suaraluwu@gmail.com
3 Min Read

Kekeringan mulai menyebabkan gagal panen pada persawahan di Kecamatan Walenrang, Kabupaten Luwu. Petani di Desa Tombang memperkirakan kerugian mencapai sekitar Rp10 juta untuk setiap hektare sawah yang gagal dipanen.

Kondisi tersebut salah satunya dialami Ilham (55). Padi yang ditanamnya telah berusia sekitar 60 hari dan seharusnya mulai memasuki fase pembentukan bulir, tetapi sebagian tanaman justru mengering dan mati akibat kekurangan air.

Menurut Ilham, kekeringan telah dirasakan sejak Maret 2026. Selama musim kemarau, para petani harus memompa air dari sungai karena pasokan melalui irigasi tidak mencukupi. Kondisi sawah kini dilaporkan mengering dan tanah mulai retak karena pasokan air tidak mampu memenuhi kebutuhan tanaman. 

Keterbatasan debit air dan jumlah pompa membuat pengairan harus dilakukan secara bergiliran. Petani di beberapa lokasi bahkan harus menunggu hingga 10 hari untuk kembali mendapatkan jatah air.

“Kami bergiliran. Kami kena giliran di sini 10 hari, baru kena giliran lagi. Kalau sampai 10 hari, tanaman padi sudah tidak bisa,” kata Ilham, Kamis (27/8/2026).

Kerugian petani tidak hanya berasal dari tanaman yang gagal dipanen. Untuk satu hektare sawah, Ilham mengeluarkan sekitar Rp5 juta untuk sewa lahan, Rp1,8 juta untuk traktor, Rp1,7 juta biaya tanam, serta sekitar Rp1,5 juta untuk pupuk. Total modal yang telah dikeluarkan mencapai sekitar Rp10 juta per hektare. 

Dampak kekeringan juga terjadi di sejumlah wilayah lain di Kecamatan Walenrang. Pendataan sementara mencatat sedikitnya 55,7 hektare sawah terdampak dan berada dalam kondisi mendekati gagal panen.

Lahan terdampak tersebar di Desa Tombang sekitar 15 hektare, Kelurahan Bulo 14 hektare, Batusitanduk 6,5 hektare, Lalong 2 hektare, Saragi 3 hektare, Walenrang 10,5 hektare, Kalibamamase 2,7 hektare, dan Barammamase 2 hektare.

Camat Walenrang, Ikram, mengatakan data tersebut merupakan pendataan sekitar satu pekan sebelumnya. Luas sawah terdampak diperkirakan masih bertambah apabila hujan belum turun.

Sejumlah petani bahkan memperkirakan sawah yang mengalami gagal panen dapat mencapai ratusan hektare apabila kekeringan masih berlanjut. 

Saat ini, empat pompa air telah digunakan untuk membantu pengairan, masing-masing dua unit di Desa Tombang dan Desa Bulo. Namun, jumlah tersebut dinilai masih belum ideal. 

Kebutuhan pompa di Kecamatan Walenrang diperkirakan setidaknya hingga 10 unit. Petani juga berharap tersedia sumber air alternatif, salah satunya melalui pembangunan sumur bor untuk menghadapi kekeringan.

Share This Article