Petani di Kelurahan Balo-Balo, Kecamatan Belopa, Kabupaten Luwu, berpacu menyelamatkan tanaman padi dari ancaman gagal panen setelah kekeringan berlangsung sekitar tiga bulan.
Kondisi semakin mengkhawatirkan karena sebagian padi telah memasuki fase bunting hingga mulai mengeluarkan bulir. Pada fase tersebut, tanaman membutuhkan pasokan air yang cukup agar bulir dapat berkembang dan terisi dengan baik.
Salah seorang petani, Ridwan, mengatakan minimnya air membuat pertumbuhan padi tidak berlangsung merata. Saluran irigasi yang biasanya digunakan petani juga sudah tidak menyediakan air sehingga mereka terpaksa memompa air dari sungai.
“Padi yang mulai mengeluarkan bulir ini tidak bersamaan akibat pengaruh air yang minim karena sedang bunting dan butuh air,” kata Ridwan, Rabu (9/9/2026).
Pompanisasi kini menjadi salah satu cara petani mempertahankan tanaman. Namun, keterbatasan mesin pompa dan biaya bahan bakar membuat upaya tersebut tidak mudah dilakukan secara terus-menerus.
Air yang berhasil dialirkan ke persawahan juga cepat menyusut akibat kondisi tanah yang kering. Menurut Ridwan, ketika pompa dimatikan pada malam hari, air di lahan sudah kembali habis pada pagi hari.
Jika dalam beberapa hari ke depan pasokan air tidak mencukupi, petani khawatir bulir padi akan layu dan tidak terisi. Walaupun tetap menghasilkan gabah, kualitasnya berpotensi menurun karena ukuran beras menjadi lebih kecil dan dapat mempengaruhi harga jual.
“Kalau beberapa hari ke depan ini tidak mendapat pasokan air, bulirnya akan layu dan tidak berisi,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, sebagian petani harus menyewa mesin pompa dan membeli bahan bakar secara mandiri. Biaya produksi pun bertambah ketika hasil panen masih dibayangi risiko penurunan hingga gagal panen.
Petani berharap pemerintah maupun pihak swasta dapat memberikan bantuan mesin pompa. Bantuan dinilai mendesak karena sumber air dari sungai masih tersedia dan sebagian tanaman masih memiliki peluang untuk diselamatkan.
“Kami harap pemerintah atau pihak swasta memberi bantuan pompa air karena kami sangat membutuhkan itu untuk menyelamatkan padi,” ujar Ridwan.
Kondisi kekeringan disebut telah berdampak pada lebih dari 15 persen dari total sekitar 337 hektare persawahan di Kelurahan Balo-Balo. Dengan dua wilayah yang paling terdampak berada di Lingkungan Rasai dan Lingkungan Balalau.
Sementara itu, Ancaman kekeringan juga tidak hanya terjadi di Balo-Balo. Data Dinas Pertanian. Kabupaten Luwu mencatat sebanyak 3.048,88 hektare sawah terancam kekeringan, sementara sekitar 109,88 hektare telah terdampak cukup berat.


