Tembus 8,9 Ton per Hektare! Panen Perdana Oplah Petani Walenrang Timur Cetak Rekor Produktivitas  

suaraluwu@gmail.com
2 Min Read

Panen padi di Desa Rante Damai, Kecamatan Walenrang Timur, Kabupaten Luwu mencatat produktivitas riil mencapai 8,9 ton per hektare. Hasil tersebut diperoleh dari panen perdana lahan reguler dan program Optimalisasi Lahan (Oplah) masa tanam April–September 2026, Kamis (17/9/2026).

Panen dilakukan pada lahan yang dikelola Kelompok Tani Taman Harapan dengan menggunakan varietas padi Ciherang. Berdasarkan laporan teknis Dinas Pertanian Luwu, hasil ubinan tercatat mencapai 11,2 ton per hektare.

Program Oplah di Luwu sendiri telah berjalan sejak 2025. Lahan yang masuk program tersebut meliputi 1.708 hektare lahan rawa dan 861 hektare lahan nonrawa.

Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan pemanfaatan lahan sekaligus mendorong frekuensi penanaman padi.

“Tujuan utama kegiatan Oplah ini adalah meningkatkan indeks pertanaman dari IP 180 menjadi IP 200, dengan target akhir mencapai IP 300,” ucap Moch. Arsal Arsyad, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Luwu.

Khusus di Kecamatan Walenrang Timur, indeks pertanaman disebut telah meningkat dari IP 180 menjadi IP 200. Artinya, intensitas pemanfaatan lahan untuk penanaman mulai meningkat, meski target berikutnya masih bergantung pada ketersediaan air.

Persoalan air menjadi perhatian karena sejumlah wilayah pertanian di Luwu tengah menghadapi kekeringan. Identifikasi terhadap sawah yang kekurangan air diminta dilakukan untuk menentukan kebutuhan penanganan sebelum musim tanam berikutnya.

Hal tersebut dikarenakan ketersediaan air menjadi salah satu faktor utama untuk meningkatkan indeks pertanaman hingga mencapai target IP 300.

Selain Oplah, program PMAS di Padang Sappa, Kecamatan Ponrang, dengan cakupan sekitar 500 hektare juga diarahkan untuk mendukung peningkatan indeks pertanaman. Kebutuhan alat dan mesin pertanian untuk prapanen maupun pascapanen turut menjadi perhatian.

Penanaman padi berikutnya ditargetkan dapat dimulai pada November 2026. Jika ketersediaan air mencukupi, peningkatan indeks pertanaman selanjutnya ditargetkan mencapai IP 250 sebelum diarahkan menuju IP 300.

Share This Article