Setiap hari, Sabran berdiri di kawasan lampu merah Radda, Belopa, menjajakan kue dan nasi kuning kepada para pengguna jalan. Dari usaha sederhana itulah ia menghidupi keluarga sekaligus membiayai kebutuhan putranya, Muhammad Aswan (12).
Aswan diketahui mengalami epilepsi sejak tahun 2017. Penyakit tersebut berdampak serius pada kondisi fisik dan motoriknya hingga membuatnya tidak lagi dapat berjalan maupun berbicara.
Sejak saat itu, seluruh aktivitas Aswan bergantung pada bantuan kedua orang tuanya. Kebutuhan hariannya pun cukup besar, mulai dari popok, susu, hingga berbagai perlengkapan perawatan yang harus tersedia setiap hari.
Keluarga sempat membawa Aswan menjalani perawatan di Rumah Sakit Universitas Hasanuddin Makassar. Namun hingga kini, kondisinya belum menunjukkan perkembangan yang memungkinkan dirinya kembali beraktivitas seperti sebelumnya.
Karena keterbatasan ekonomi, keluarga tersebut akhirnya memilih tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana di Kelurahan Sabe, Kecamatan Belopa. Di tempat itulah mereka terus berjuang menjalani kehidupan sehari-hari.
Meski menghadapi berbagai kesulitan, Sabran tidak pernah berhenti mencari nafkah. Setiap hari ia tetap berjualan demi memastikan kebutuhan putranya dapat terpenuhi.
Penghasilan yang diperoleh tidak hanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga. Sebagian besar juga dialokasikan untuk menunjang kebutuhan perawatan Aswan yang harus dipenuhi secara rutin.
Sabran berharap ada bantuan dan perhatian dari berbagai pihak untuk membantu meringankan kebutuhan harian putranya. Terutama kebutuhan seperti popok, susu, dan perlengkapan perawatan lainnya.
“Kami hanya berharap ada bantuan untuk kebutuhan Aswan, terutama popok, susu, dan kebutuhan hariannya. Semoga ada yang tergerak membantu,” ujarnya.
Kisah keluarga ini menjadi gambaran tentang perjuangan seorang ayah yang terus berusaha memberikan perawatan terbaik bagi anaknya di tengah berbagai keterbatasan yang dihadapi.


